Economics
Politics
Social & Cultural
Science & Tech
Indonesia
Lifestyle
Travelling
Reflection
Fiction
Personal
Uncategorized
... A Story behind “Seoul”...
Filed under: Reflection — krismi @ 08:46:29
2011
06
Jun

There’s always first time for everything. Dan dalam beberapa hal,  pengalaman pertama bisa jadi menimbulkan sensasi yang luar biasa. Tulisan ini adalah sebuah cerita tetang pengalaman pertama dan bagaimana sebuah pengalaman pertama mengajari kita banyak hal.

Berbicara di sebuah forum internasional adalah hal baru bagi saya. Beberapa teman telah lebih dahulu melakukannya, tapi jujur, saya belum pernah. Makanya pas awal tahun 2011, saat saya menghabiskan malam tahun baru di Paris, ditengah hiruk pikuk orang-orang yang berkumpul di sekitar Menara Eifel, saat itu saya sempat memikirkan beberapa hal yang ingin saya lakukan selama tahun ini. Selain ingin menyelesaikan study master, mimpi tentang Rome, Salzburg, Rinjani, dan Wakatobi, hal lain yang saya ingin lakukan adalah mempresentasikan paper saya di sebuah International Conference. Entah kenapa, kala itu saya begitu menginginkannya. Padahal saya tau: I am not genius, nor good enough in public speaking, but, there I was, challenged myself. Yang terbersit saat itu hanyalah “saya ingin merasakan pengalaman berbicara di forum Internasional”.

Karena ini adalah kali pertama, sensasinya benar-benar luar biasa. Dengan keterbatasan pengetahuan yang ada, dan di tengah “siksaan” (sorry sengaja hiperbolik) semester pertama kuliah saya di Kobe University, saya mempersiapkan abstract untuk dikirim ke beberapa conference. Kala itu saya mengirimkan abstract paper saya ke international conference di Rome dan Seoul. Keduanya diterima. Sangat senang tentunya.

Singkat cerita, karena kampus saya tidak bisa membiayai perjalanan saya ke Roma, dengan alasan saya bukan mahasiswa doktoral (aghh... saya jadi pengen lanjut S3 nih mengingat fasilitas doctoral student sepertinya lebih baik ya.. :-D), maka Seoul adalah pilihan untuk menjajal pengalaman pertama. Pertimbangannya, panitia conference di Seoul menyediakan akomodasi lengkap selama 4 hari 3 malam, selain juga professor pembimbing saya “berbaik hati” membayari tiket Korean Air  Osaka-Seoul return (Professor saya baik banget ya?.. :-D).

Bagi orang yang demen klayapan semacam saya, mengunjungi tempat baru memang selalu menimbulkan excitement luar biasa. Tapi kali ini berbeda. Selain excitement, ada gejala mules yang ditimbulkan di sana (hehehe... ). Presentasi di depan kelas saja saya suka nguaco (terutama kelas international economics), apalagi berbicara di depan forum sekelas internasional conference. Dan bagian inilah yang bikin debaran hebat di dada saya. Berkecamuk pikiran aneh dan segala bentuk kekawatiran di hati. Kekhawatiran kalau-kalau saya tidak bisa menyampaikan paper saya dengan baik, kalau-kalau tiba-tiba saya jadi amnesia saat berbicara di depan forum, kalau-kalau paper yang saya buat dianggap "aneh bin tidak logis", atau “kalau-kalau” yang lain. Biasanya kalau orang khawatir, hal-hal gak penting banyak nyamper di kepala.. :-D. Ones more, I am not good enough in public speaking, so this kind of worries would be understandable (cari excuse... hehehe).

Kekhawatiran ini semakin menjadi saat saya tau bahwa sebagian besar yang hadir adalah professor. Presenter berlabel master (apalagi masih student macam saya) bisa dihitung dengan jari. Tapi saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya bisa. Seburuk-buruknya, kalaupun saya melakukan kesalahan, paling tidak saya bisa “berdalih” karena saya masih muda (hehehe) dan sedang dalam proses belajar.

I was so nervous at that time.

Hundreds times before giving presentation, shortly I prayed “God, please help me”.

And....

There I was, presented my paper on that international conference for the first time.

Dan....

Tidak terjadi apa-apa, selain bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa hal-hal yang saya khawatiran sebelumnya tidak terjadi.  Yang ada malah berupa appresiasi. Seorang profesor dari University of The Philippines menyalami saya dan menyatakan tertarik dengan paper saya dan menawarkan melakukan research bersama. Kemarin, saya juga dapat email dari seorang profesor dari sebuah universitas di Korea yang “menawarkan” ingin menulis bersama. Terlepas dari saya mau menindaklanjuti atau tidak tawaran-tawaran ini, jujur, saya lega.

LEGA dan SENANG lebih tepatnya.

Lesson learn from the story is: you may get nervous for your first experience, it’s normal, but be sure that you may learn much from it or even it may open many other ways to experience something “higher”.  Pengalaman pertama hanyalah sarana awal untuk membiasakan diri pada tahapan pengalaman yang lebih.  

Thus, everytime people ask me regarding my conference in Seoul, I simply said, “ The conference was great and I learn a lot”. . :-)

 

Kobe, 29 June 2011

Leave a comment
Leave a comment
   Name (Required)
   Email (will not be published) (Required)
   Website
... Tentang Sekolah dan \"Thesification\"...
Filed under: Personal — krismi @ 10:24:18
2011
06
Jun

Tulisan ini sekedar curhatan di sela kepenatan, so don’t take it seriously!.. :-D

Sekolah (lagi) memang menyenangkan. Selain karena teman dan lingkungan (dan mungkin juga budaya) baru, saat sekolah kita memperoleh kebebasan besar untuk melakukan apapun, belajar apapun, baca buku apapun, pun mengisi waktu dengan apapun. Sejujurnya, sekolah bukanlah segalanya bagi saya, tapi saya memang sangat menikmati proses ini. So bagi saya, dua kata yang mendeskripsikan saat sekolah: Seru dan Fun. Definitely. Tidak ada keraguan saya sedikitpun untuk menarik kesimpulan ini... hihihi... you may disagree with this.

Perlu dicatat, saya tidak sedang mendefinisikan kata “seru dan fun” sebagai sesuatu yang segalanya mudah dan lancar bin mulus tanpa kesulitan. No way! Kalau mau jujur, saya dengan segala keterbatasan isi kepala saya cukup sering menemukan kesulitan saat proses sekolah saya, di sana juga ada “proses airmata”. Hanya mungkin karena saya bukan tipikal orang yang terlalu suka membesar-besarkan sebuah kesulitan, maka saya jarang menunjukkannya kepada semua orang bagaimana saya berproses di dalamnya. Hanya dengan orang-orang tertentu saya mensharingkan bagaimana sesungguhnya saya berproses saat menjalani sekolah ini. Status facebook saya pun tidak (atau amat sangat jarang) berisi keluh kesah tentang sekolah. Karena bagi saya tidak penting “seluruh dunia” tau bagaimana saya berproses pada tahapan ini. Note: Akibat (buruknya), melihat isi facebook saya banyak orang yang berfikir “tidak tidak” menyoal proses sekolah saya.  Jujur, kadang kesal juga, tapi kalau difikir-fikir lagi, buat apa keki, so biarkan saja... :-D

Salah satu hal seru lain dari proses sekolah adalah saat mengerjakan thesis. Jujur, thesis buat saya BUKAN hal yang mudah. Saya memang tidak pernah mau mengatakan apapun sebagai sesuatu yang sulit, karena saya selalu yakin selalu ada jalan keluar kalau kita berusaha meski itu tidak mudah. Sebenarnya, menyoal mudah atau tidaknya sesuatu, cukup tergantung pada bagaimana ekspektasi kita terhadap sesuatu itu sendiri. Berkaitan dengan thesis, ekspektasi ini selain menyangkut ekspektasi terhadap output thesis, juga berkenaan dengan proses mengerjakan thesis atau “thesification” itu sendiri.

Sampai dengan H-35 dari deadline pengumpulan thesis, ada 3 kesimpulan saya menyoal "thesification":

Thesis is a function of data availability

Sebenarnya, thesis saya sederhana. Tapi entah mengapa prosesnya menjadi sedikit tidak sederhana karena permasalahan ketersediaan data. Dalam dunia kuantitatif, seperti ilmu ekonomi, tidak dapat disangkal bahwa data kuantitatif memegang peranan utama. Dan sering kali inilah yang menjadi kendala kalau kita mengambil case study negara-negara berkembang yang memiliki kecenderungan bank data yang belum terlalu baik. Apalagi kalau data yang dibutuhkan adalah data-data pada level regional, bukan makro. Thus, it can be concluded that thesis is a function of data availability and (sometimes) has no correlation with personal interst. Hihihi... It happens in many cases, meski pada kasus saya pribadi, sedikit beruntung karena thesis saya masih tetap merupakan interest saya, meskipun thesis saya mengalami proses evolusi  dari plan awal, due to data constraint.

Thesis is a function of self contemplation

Di kampus saya (dan mungkin pada hampir semua tahapan S2 dan S3), thesis lebih cenderung sebagai independent research dengan peran professor pembimbing, kalo bisa dibilang, tidak terlalu banyak. Setiap minggu or dua minggu sekali kita harus mempresentasikan progress thesis kita di depan kelas, dan di sana kita diuji seberapa logic proses thesis kita. Dan sebagai sebuah independent reserach, thesis seolah merupakan “cerminan” hasil kontemplasi diri si mahasiswa.  Proses kontemplasi ini memang cukup dipengaruhi oleh professor pembimbing dan linkungan pertemanan di kampus. Satu bimbingan dengan teman-teman yang pinter dan rajin sangatlah menguntungkan saya karena saya jadi terpicu buat “terpaksa ikutan rajin”... :-D. Punya dosen pembimbing yang baik dan tidak demanding juga cukup mempengaruhi.

Thesis is a function of God’s Grace

Satu hal lain yang saya lihat dan rasakan dari proses “thesification” ini adalah bagaimana Tuhan nyata dan luar biasa bagi saya. Saya terkagum-kagum dengan bagaimana Dia menjagai dan menunjukkan “sayangNya” pada saya. Ada saja caraNya buat bilang sama saya kalau Dia selalu ada. Misalnya, saat saya bingung, tiba-tiba saya nemu jurnal yang bisa menjawab kebingungan saya, atau saya “bertemu” teman yang bisa ngasih ide buat saya. (For this, I do thank to Yogi, Adi, Iin, and Kitting).  Pernah suatu malam saya menangis sesengukan gara-gara secara tiba-tiba saya “baru bisa ngerti” (setelah sekian lama "nesis") kenapa hasil estimasi saya signnya positif (padahal expektasi awalnya adalah negatif). Buat orang lain mungkin sepele, tapi saya tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang terjadi kebetulan. It all happens because God is kind. And He's trully kind.

Dilihat dari prosesnya, thesis sendiri menyisakan banyak cerita “seru”. Kalau pas lagi nongkrong sama temen-temen selepas presentasi progres thesis, ada saja cerita seru, lucu dan aja juga yang sedikit mengharu biru”. Entah menyoal “derita” mengumpulkan data, “derita” memahami jurnal, , “derita” menyusun logic framework”, “derita” karena sensei yang demanding, logic analysis yang gak nyambung, “derita” saat mesti harus begadang berhari-hari cleaning data, “derita” hasil estimasi yang diluar ekspektasi, atau “derita” mencari justifikasi logis dari hasil estimasi, dan lain sebagainya. Terlepas dari rangkaian cerita dibalik proses thesis, saya menyukuri setiap proses itu. Karena saya tau, semua proses itu baik.

Based on aforementioned description above (halah kayak test writing IBT ajah... hihihi), it can be concluded by mathematical equation as following:

              Thesis = f(data availability, self contemplation, sensei, friends, and God’s grace)

Well, in my case, all those independent variables are significant and has positive sign, and among all those explanatory variables, the biggest coefficient is belong to variable of God’s grace. No doubt about it.

\"\\"\\"\"\"\"God's goodness to me are countless. Selain tersebut di atas, salah satu kebaikanNya adalah saat paper saya yang merupakan bagian dari thesis saya keterima di 2 international conference di Roma dan Seoul. Meski saya batal berangkat ke Roma dan “hanya” akan berangkat ke Seoul minggu depan untuk mempresentasikan thesis saya, tapi saya senang dan bersyukur. Lebih tepatnya: Senang, bersyukur dan degdegan. Senang karena ini pengalaman baru, juga senang karena barusan dapat tambahan uang saku dari Sensei saya while all has been arranged by conference committee... hehehe... So, wish me luck...:-D

 

Kobe, 10 June, 2011

Leave a comment
Leave a comment
   Name (Required)
   Email (will not be published) (Required)
   Website
... Dia, Kartini Bagi Saya!
Filed under: Personal — krismi @ 08:09:12
2011
05
May

Saya lahir dan besar di sebuah kampung di Boyolali, sebuah kabupaten kecil di lereng Gunung Merapi. Terlahir dari seorang ibu sederhana bernama Sumiyati, saya terbiasa hidup susah sejak kecil. Meski sederhana, beliau adalah seorang ibu yang luar biasa. Dari beberapa budhe-pakdhe dan bulik-paklik, baik dari pihak bapak maupun ibu, ibu saya adalah salah seorang, yang menurut saya, cukup “sukses” dalam hidup. Bagaimana tidak? Dengan latar belakang Sekolah Dasar, dan hanya seorang pedagang di pasar, ibu saya bisa menyekolahkan saya di ITB sampai selesai.

Bagi saya, ini bukanlah suatu hal yang biasa. Dan di sepanjang hidup saya, saya akan selalu mengingatnya sebagai sebuah proses yang luar biasa. Bagaimana tidak? Karena kondisi ekonomi, kuliah bagi keluarga saya adalah barang mewah. Ibu (dan ayah) saya juga hanya lulusan Sekolah Dasar dengan pemikiran yang sangat sederhana. Tapi saya beruntung, saya memiliki seorang ibu dengan pemikiran simpel dan positif. Tahun 1997, saat saya “ngotot” ingin kuliah ke Bandung, ibu saya adalah orang yang paling mensupport (disamping bapak saya tentunya). Padahal saya tau kalo beliau tidak memahami sepenuhnya apa yang sedang dilakukannya saat itu.

Saya tau, bukan hal yang mudah bagi ibu saya kala itu untuk melepaskan anak bungsunya merantau ke Bandung, karena selama 17 tahun saya selalu bersamanya. Saya paham, bukan hal yang gampang baginya untuk mencari uang untuk makan dan apalagi membiayai kuliah dan hidup saya di Bandung. Saya mengerti bagaimana ibu saya sedih dan menangis saat dicibir oleh tetangga atau saudara karena “membiarkan” anak perempuannya merantau. Hidup di kampung seperti tempat tinggal saya, memang masih dipenuhi dengan pola pikir konvensional terutama menyoal pandangan mengenai anak perempuan. Tapi Ibu saya merestui pilihan saya, meski konsekuensinya, sangat berat. Mereka harus bekerja keras dan bercucuran keringat untuk membiayai kuliah saya.

Bukan hal yang mudah memang. Tapi akhirnya bisa kami lalui juga.

Jadi, kalo berbicara mengenai Kartini dan konsep emansipasi sebagaimana banyak dibicarakan orang hari ini, bagi saya, Kartini bukan hanya mereka yang mampu mengepakkan sayapnya tinggi-tinggi dan terbang di awan; Kartini juga bukan hanya mereka yang mampu mencapai mimpinya untuk menduduki posisi-posisi penting, TAPI juga mereka yang meski tetap menapakkan kakinya di tempat yang sama, tapi mampu melepaskan belenggu “keterbatasan” dan mengatasi “ketidakmungkinan”. Dan Ibu saya adalah Kartini bagi saya. Kerelaannya untuk melepaskan saya, juga setiap tetes keringat dan untaian doanya membuktikan betapa luar biasanya ibu bagi hidup saya. Meski dengan kesederhanaannya, Beliau mempu meneguhkan diri mengatasi setiap kata dan kondisi yang melemahkan dirinya.

Campur aduk perasaan saya setiap kali saya mengingat ibu dan perjuangan yang harus beliau lewati kala itu. Ada HARU dan BANGGA di sana.

Saya mengucap syukur untuk apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup keluarga saya. Sampai hari ini pun saya BUKAN orang kaya, pun bukan orang BESAR, tapi saya tahu dan menyadari bahwa Tuhan memberkati saya terlalu banyak – sangat melimpah.

 

Tulisan ini didedikasikan untuk Ibu.

 

Kobe, 21 April 2011

 

Gambar diambil dari: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Agama+Kartini&dn=20090406220840
Leave a comment
Leave a comment
   Name (Required)
   Email (will not be published) (Required)
   Website
Iklan Djarum Super dan Kebanggaan akan Indonesia!
Filed under: Indonesia — krismi @ 13:49:08
2011
05
May

Dua hari yang lalu saya menemukan sebuah link video diupload di wall facebook seorang teman yang sedang kuliah di Prancis. Video ini adalah iklan Djarum Super terbaru dengan tagline, “ My Great Adventure Indonesia. Ini link-nya:http://www.youtube.com/watch?v=KYl2MIfaJ2k&feature=share

Dari dulu, iklan Djarum Super memang memiliki storyline yang, menurut saya, sangat firm, yaitu mengusung message tentang kejantanan pria. Hanya diantara iklan Djarum Super yang ada, iklan terbaru inilah yang menurut saya paling ngena. Pernyataan ini memang subjective dan setiap orang bisa menyatakan pendapat yang berbeda. Iklan yang menggambarkan petualangan 3 sekawan di belantara alam Indonesia ini, selain content-nya  bagus, kombinasi sudut pengambilan gambar yang perfect, juga didukung oleh pemilihan sound track yang pas untuk mengusung storyline bertema petualangan. Keren sekali.

Semakin sering saya melihat video iklan ini, semakin saya merasa terkagum-kagum.Kekaguman saya bukan hanya pada bagaimana Iklan ini mampu mentransfer message bahwa Indonesia adalah tempat berpetualang anak muda yang keren, tapi juga kekaguman saya dengan keindahan alam Indonesia yang tidak bisa disangkal memang sangat luar biasa.

 Tanpa bermaksud untuk membanding-bandingkan, dari 9 negara yang pernah saya datangi sampai dengan hari ini, saya bisa bilang bahwa alam Indonesia sangat luar biasa. Saya jadi ingat saat saya ke Bromo dan bagaimana saya terkagum-kagum dengan pemandangan sunrisenya. Saya ingat betul saat itu saya dan Alison bertemu dengan sepasang turis dari Jerman yang datang khusus ke Indonrsia, “hanya” untuk melihat Gunung Bromo. Saya juga ingat bagaimana saya bergumam berulang kali menyebut kebesaran Tuhan saat saya mengunjungi Pulau Belitung dan sampai hari inipun masih menyimpan rindu untuk kembali kesana. Saya juga memasih menyimpan memori saat saya menikmati alam bawah laut di Gili Trawangan dan Pulau Karimun Jawa dan berenang dengan ribuan ikan. Saya juga masih ingat bagaimana nikmatnya hembusan angin sore hari saat saya dan Alison menikmati  Lembah Harau di Sumatera Barat.

Dari berbagai tempat di Indonesia yang pernah saya datangi, ada satu hal yang sama. Yakni bahwa di setiap tempat itu, seolah di sana Tuhan sedang berbicara bahwa Dia tidak pernah “sedang iseng” saat menciptakan alam Indonesia. Aghh... it’s truly awesome. Saya menyukainya. Saya bangga memilikinya. Sangat.

Menonton iklan Djarum Super kemarin seolah membangkitkan kembali mimpi saya untuk berkelana ke seluruh pelosok negeri karena Indonesia memang menjanjikan keindahan alam yang luar biasa. Pulang dari Jepang nanti, mungkin mimpi ini bisa diwujudkan kembali.  Semoga.

 

Kobe, Jepang, 7 Mei 2011

Leave a comment
Leave a comment
   Name (Required)
   Email (will not be published) (Required)
   Website
Cerita Sebuah Perjalanan: Tentang Prancis dan Mimpi Saya
Filed under: Travelling — krismi @ 07:17:00
2011
04
Apr

Prancis memang bagian dari mimpi lama saya. Sebabnya karena Andrea Hirata dan Tetralogi Laskar Pelanginya. Entahlah. Saya sangat menyukai cara Andrea Hirata mengurai cerita. Gaya bahasa hiperbolis dan lucu dipadukan dengan ekplorasi budaya Melayu, menjadikan setiap bukunya sebagai buku favorit saya. Cara Andrea Hirata menebarkan benih-benih mimpinya pun sangat mengesankan. Buku luar biasa itu menginspirasi saya (dan tentunya banyak orang lain juga) untuk menjadikan mimpi sebagai sebuah energi yang mesti diwujudkan meski dengan segala keterbatasan yang kita miliki.

Kala itu, saya berkata dalam hati, “suatu hari kalau saya mengunjungi Eropa, saya harus ke Prancis untuk melihat Paris dan Sorbonne”. Nyatanya energi mimpi adalah energi yang sangat positif yang bekerja mendorong kita, sang empunya mimpi, untuk berjalan dan bahkan berlari kearah pencapaian mimpi itu. I believe that ones you “declare” your dreams, and you mean it, then your mind, body and soul would work together to make your dreams come true”.

Setelah “berjuang” mengurus Visa Schengen di Kedutaan Belanda di Tokyo (o iya, sementara ini saya tinggal di Kobe, Jepang, ± 8 jam dari Tokyo by bus), 22 Desember 2010, saya berangkat ke Eropa. Butuh 18 jam perjalanan pesawat dari Kansai International Airport, Osaka ke Schipol, Amsterdam (ditambah dengan 3 jam transit di Hongkong). Prancis adalah negara kedua yang saya kunjungi setelah Belanda dari rangkaian my 18-days-Tour De-Europe. Puas mengunjungi Belanda, saya tiba di Paris tanggal 27 Desember pagi.

Menginap di rumah temen Indonesia yang sedang sekolah di Prancis, selama 5 hari, saya menyusuri sudut-sudut Kota Paris dengan segala ketakjuban saya. Dibandingkan dengan kota-kota di Belanda, Paris memang lebih “light up”. Dan meski Paris tidak sebersih kota-kota di Jepang, tidak dapat disangkal kalau Kota Paris memang sangat cantik. Bangunan-bangunan tuanya begitu indah terawat. Bangunan-bangunan barunya yang juga didesign dengan konsep arsitektur klasik tua yang begitu harmonis dengan bangunan-bangunan tuanya, menjadikan Kota Paris sangat cantik, indah dan megah.

Menyusuri jalan-jalan di Kota Paris memang menyenangkan. Didukung dengan sistem transportasi yang bagus, integrated, dan mudah dipelajari, menjadikan kunjungan ke setiap tempat wisata di kota ini menjadi begitu mudah, bahkan bagi pendatang seperti saya. Notre Dame de Paris, katedral tua yang dibangun pada tahun 1862 menjulang megah di tepi Sungai Seine. Di sepanjang sungai ini juga, berbaris cantik beberapa museum hebat seperti: Musee d’ Orsey, dan yang paling fenomenal Musee de Lovre. Musee de Lovre sendiri memiliki pesona tersendiri  bagi saya karena uraian cerita Dan Brown dalam bukunyaThe Davinci Code. Museum yang adalah museum terbesar di dunia ini merupakan perpaduan antara gaya klasik dan teknologi  modern.  Berbagai mahakarya lukisan, pahatan dan karya seni lainnya dipajang di museum ini. Indah sekali. Wajar bila museum ini tidak pernah sepi dari pengunjung.

Tempat berikutnya adalah Arch de Triomphe. Monumen berbentuk gerbang ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang meninggal pada saat perang. Monumen yang seolah berada di tengah persimpangan jalan raya berbentuk bintang lima ini, kokoh berdiri di di tengah area Place de l'Étoile. Menikmati indahnya Kota Paris dari atap bangunan ini saat malam hari adalah hal yang sangat menarik untuk dilakukan saat berada di sana. Cantik sekali. Juga mengunjungi Istana Versailles, dan menikmati bagaimana sebuah istana berbicara banyak mengenai sejarah kebesaran Raja-Raja Prancis dulu kala. Sungguh Indah. Kalau Anda suka mengeksplorasi sejarah Eropa, maka Prancis adalah tempat yang pas untuk dikunjungi. The Grand Trianon, istana Marie de Antoniete yang berada satu kompleks dengan Versailles pun pasti akan membuat Anda terkagum-kagum dengan bagaimana wanita berpengaruh ini hidup di jaman Raja Louis XVI. Sangat mengesankan.

Hal lain yang tentu saja TIDAK akan pernah saya lupakan dari Kota Paris adalah saat saya mengunjungi Sorbonne. There I was, stood and stared to an old building named Sorbonne: Universites de Paris. Sebuah universitas tua di Eropa yang dibangun di tahun 1257. Andrea Hirata bilang di buku Laskar Pelanginya, “Tuntutlah Ilmu sampai ke Altar Sorbonne”. Kata-kata inilah yang membawa saya kesana. Tiba di depan bangunan tua yang tegak kokoh berdiri itu, saya terdiam tak bergerak. Saya tertegun, jantung saya berdebar, dan dari sudut mata saya nyaris menitikkan air mata. Entahlah. Saya terharu. Terharu karena “Anak kampung yang miskin ini pun sekarang bisa melihat Sorbonne”.  And there I was, walking on my dreams. Ya, meski saya tidak bisa menuntut ilmu sampai di altar Sorbonne, paling tidak, saya pernah datang ke sana untuk sekedar menatap Sorbonne dan kebesarannya. And it was trully awesome.

Another unforgetable place is Eiffel Tower. Landmark Kota Paris yang satu ini memang selalu ramai dikunjungi orang. Mungkin banyak orang menganggap kurang afdol rasanya bila mengunjungi Paris dan belum memiliki foto berlatarbelakang menara satu ini. Saya sendiri selama di sana telah beberapa kali mampir melihat menara ini. Saya bahkan menghabiskan malam tahun baru saya di sana bareng beberapa temen dari PPI Paris, Bordoux, Lyon, De La Rochele, dan Belanda. Meski tidak ada kembang api di langit Kota Paris malam itu, bagi saya malam tahun baru 2011 kemarin adalah malam yang sangat mengesankan. Mungkin karena ada sebuah cerita di sana. Cerita yang membuat saya masih suka senyum-senyum sendiri bila mengingatnya. Cerita yang membuat saya seolah ingin selalu kembali ke saat-saat saya di sana. Lovely... :-D

Kota Paris memang tidak hanya sekedar indah, megah, dan cantik, tapi juga sangat romantis, and I definitely agree with it. So, bagi saya, perjalanan ke Prancis 2 bulan lalu adalah perjalanan yang seru dan tidak terlupakan karena itu adalah bagian dari mimpi-mimpi lama. Dan bagi saya, tidak ada hal yang lebih seru dari saat kita bisa berjalan didalam hal-hal yang kita pernah impikan sebelumnya. Mungkin suatu hari saya harus kembali lagi ke sana untuk mengambil sebagian hati yang tertawan oleh kota ini. That’s a story when I was in Paris.

COMMENT
krismi said :

wahh... daya ingatmu ttg masa-masa remaja kita jauh lebih baik ya... hehehe... nice jawari. Keep the good work... keep encouraging  your students to keep dreaming ya

Jawari Mafnun said :
Sewaktu memberi motivasi kepada siswa2 beberapa waktu lalu, saya menyebutkan beberapa orang teman lama saya, salah satunya adalah Krismiyati, bukan untuk membanggakan diri saya (jadi keingat dengan pak Bambang tidak Kris? Yang suka ngobrolin orang2 terkenal yang dia kenal?) tapi untuk memberi motivasi mereka, agar mereka berani untuk bermimpi dan yakin serta percaya bahwa mimpi mereka akan menjadi kenyataan :)
Leave a comment
Leave a comment
   Name (Required)
   Email (will not be published) (Required)
   Website

 

Welcome to my blog...

Saya hanyalah orang biasa yang masih harus banyak belajar memaknai kehidupan. Seorang dengan keingin-tahuan cukup besar terhadap berbagai hal, tapi sebenernya, hanya se-simple ini keinginan saya:
 
"Saya hanya ingin menulis sebanyak-banyaknya, dan mengunjungi berbagai tempat baru sebanyak-banyaknya juga".
 
Blog ini adalah tempat saya belajar bercerita, beropini, berekspresi, dan tentunya juga belajar untuk jujur...
 
Selamat Menikmati!... :-)
 

Recent Comment
tan3 said : Mr Sua bangetzzzzzzz........ well done hunny
on Regions: The Playmaker of Global Economy
2010-08-31 05:11:18 Read More »
Masbro said : berbeda itu indah jika kita melihatnya dari sudut pandang yang sama.. Salam hangat;
on Perbedaan Bukanlah Kesalahan
2011-02-15 17:39:50 Read More »
Jawari Mafnun said : Sewaktu memberi motivasi kepada siswa2 beberapa waktu lalu, saya menyebutkan beberapa orang teman lama saya, salah satunya adalah Krismiyati, bukan un ...
on Cerita Sebuah Perjalanan: Tentang Prancis dan Mimpi Saya
2011-05-04 20:53:14 Read More »
krismi said :

... iya, kesamaan cara pandangnya berupa kesamaan untuk sama-sama saling menghargai perbedaan ya mas? salam hangat juga...

on Perbedaan Bukanlah Kesalahan
2011-05-05 09:13:58 Read More »
krismi said :

wahh... daya ingatmu ttg masa-masa remaja kita jauh lebih baik ya... hehehe... nice jawari. Keep the good work... keep encouraging  your st ...

on Cerita Sebuah Perjalanan: Tentang Prancis dan Mimpi Saya
2011-05-05 09:16:12 Read More »
The Blind Side

Actually, this movie has been released quite long, but I just have "opportunity" to watch it lately. For me, this movie are not too excellent compared to Inception or The Departed, but I get lesson from it. The main lesson is about the love of Touhy family that share to Michael Oher. The way they treat Oher is so touching. I love Jae Head who plays smartly and "naughty" as SJ. And of course love Sandra Bullock as Leign Anne Touhy.I can feel their warm, intimate relationship among each other.

Another lesson is got from final paper of Michael Oher:

.... "Courage is a hard thing to figure. You can have courage based on a dumb idea or mistake, but you're not supposed to question adults, or your coach or your teacher, because they make the rules. Maybe they know best, but maybe they don't. It all depends on who you are, where you come from. Didn't at least one of the six hundred guys think about giving up, and joining with the other side?

Beauty in Dissaray

After buying the book of “Beauty in Dissaray” 3 weeks ago, reading that book has been my favourite activity during my spare time. Actually, I have some books to be read, but from the very beginning (since I read the synopsys of the book at back), I think that I will like it.

Beauty in Dissaray, written by Harumi Setouchi, is a book about faminist movement in
Japan. As for me, it gave me lot of lesson learn. It’s because it had made up my mind about woman and the role that they can play, not only in their personal life but also in their professional career. O yes, I just remembered something very interesting about the quotation in the book.